Pikiran yang cerah, bersih, dan cemerlang akan serta merta membawa kita pada sebuah langkah hidup yang tenang. Pikiran-pikiran positif seperti itulah yang harus diciptakan agar kita tidak mengalami kehidupan yang timpang dan gamang. Kita akan terlaltih untuk menerjemahkan segala sesuatu, untuk membenamkan keangkuhan, mengambil sikap lalu luruh dalam mengharap ridha Allah swt.
Pikiran-pikiran positif dapat dibangun dengan melakukan beberapa hal seperti di bawah ini.
1. Menghilangkan cemburu dan penyakit hati lainnya
Rasa cemburu merupakan salah satu penyebab timbulnya rasa cemas. Rasa ini merupakan suatu hasrat untuk dicintai seseorang dengan cara tertentu. Rasa cemburu ini dapat timbul akibat kurangnya kepercayaan diri. Cemburu merupakan problem kejiwaan urutan pertama diantara problem kejiwaan lainnya. Orang yang ditimpa rasa cemburu yang berlebihan akan menyulitkan dirinya untuk menilai mana yang baik dan mana yang buruk sehingga dapat menimbulkan perilaku yang bersifat merusak.
Orang yang menyiksa diri karena cemburu melihat tingkah laku orang yang dicintainya kepada orang lain hendaknya mengetahui bahwa pemikirannya salah. Kita hendaknya tidak memberikan penilaian kepada diri sendiri melalui orang lain. Nilailah diri kita berdasarkan kita sendiri, dari kepribadian dan perbuatan kita. Akan tetapi, bukan berarti kita tidak boleh cemburu. Karena sesungguhnya cemburu adalah kodrat manusia. Namun kita harus bisa mambedakan mana cemburu yang negatif dan yang positif.
Penyakit hati lainnya ialah iri. Ada syair yang berbunyi.
“Alangkah indah dan adilnya sifat iri itu bila sifat iri sudah mulai menyerang pemiliknya. Selanjutnya, pemiliknya itu akan dibunuhnya pula.”
Seorang ahli fiqih bernama Mansyur pernah mengatakan
“Katakan kepada orang yang selalu iri kepadaku, tahukah engkau kepada siapa engkau telah bertindak tidak sopan. Engkau telah bertindak tidak sopan kepada Allah atas tentuannya karena engkau tidak rela atas apa yang Allah berikan kepadaku,”
Oleh karena itu, jagalah diri kita dari sifat iri karena dalam iri akan tumbuh dan berkembang rasa benci antar sesama manusia. Dengan sifat iri ini akan timbul permusuhan, permasalahan, dan peperangan. Dan jangan pernah benci kepada seseorang yang Allah telah memberikan kepadanya sebagian karunia-Nya. Dengan begitu, perasaan dan jiwa kita akan tenang dan tentram.
2. Membebaskan diri dari rasa sedih, cemas dan takut gagal
Hidup kita merupakan hasil berpikir kita. Kita tidak akan terhindar dari rasa sedih dan cemas jika kita selalu memenuhi kepala kita dengan kesedihan dan kesusahan yang berat untuk dipikul. Kita tidak akan mampu terbebas dari rasa cemas dan sedih kecuali kita sendiri bersikeras untuk mengatasinya. Semua itu dapat terwujud dengan mengubah dan meluruskan gaya pikiran kita yang selalu mengiginkan semua berjalan sesuai dengan kehendak kita.
Padahal di dunia ini tidak ada yang sempurna. Satu ciri kehidupan di dunia ialah adanya perasaan kurang. Dengan sikap yang perfeksionisme kita akan selalu merasa cemas dan takut gagal. Padahal dengan cemas tidak akan membuat sesuatu menjadi lebih baik, malah menjadikan seseorang kurang dapat beradaptasi dengan masa kini.
Perasaan takut gagal pun kerap muncul dalam benak seseorang. Perasaan seperti ini bukanlah fitrah atau bawaan sejak lahir. Didikan sosiallah yang berperan besar memberikan pegaruh ini. Dr. Wyne W. Dyer dalam bukunya 10 Secret for Success and Internal Peace mengatakan bahwa rasa takut gagal sangat menjangkiti masyarakat karena rasa takut itu sudah terekam dalam pikiran sejak masa anak-anak dan terus melekat sepanjang hidup.
Perasaan takut gagal akan mencegah kita untuk mengarungi pengalaman yang sangat banyak, menarik dan berguna bagi kita. Orang-orang yang telah membebaskan dirinya dari perasaan takut gagal adalah orang-orang yang paling berhasil yang pernah kita lihat. Oleh karena itu kita tidak boleh putus asa jika mengalami kegagalan di masa lalu dan menghentikan kita untuk melangkah maju.
3. Jadilah sosok yang sukses dan Berbeda
Didikan keluarga yang salah akan berperan besar dalam mewariskan kepada anak-anak sifat yang suka ikut-ikutan dan tidak memiliki pendirian. Lebih lanjut, hal itu berperan besar pula dalam upaya menjadikan pribadi anak mirip sekali dengan ayah atau ibunya.
Pribadi orang yang suka ikut-ikutan adalah pribadi yang suka menempel dan lemah, padahal di satu pihak, Islam membutuhkan sosok muslim yang berkepribadian kuat dan independen serta sosok pribadi yang istimewa dan lain daripada yang lain. Kita harus merasa bahwa kita memiliki kepribadian yang dapat menjadi kebanggaan bagi kita. Kita harus memiliki jalan hidup sendiri. Akan tetapi kita boleh mirip dengan orang lain dalam hal kebaikan dan ketaatan. Namun jangan berupaya mirip dengan orang lain selain kita sendiri.
Perasaan bangga dengan diri pribadi, komitmen untuk tetap berpegangan dengan hal itu, serta sikap kita yang tidak seka meniru orang lain, akan membantu kita untuk memperoleh ketenangan jiwa dan berperan juga dalam rangka mengatasi kecemasan dan kesusahan. Hal ini pula yang akan memjadikan kita merasa bahagia dan sukses karena telah menjadi diri sendiri tanpa menjadi sama dengan orang lain.
4. Ikhlas, ridho, dan tawakal atas langkah yang diambil
Salah satu penyebab kecemasan yang dialami oleh kebanyakan orang adalah rasa jengkel pada diri meraka dengan tingkah laku dan perbuatan orang lain atau mereka merasa diabaikan oleh orang lain, sehingga ia merasa rendah diri.
Sungguh, itu adalah perbuatan yang salah. Kita hendaknya selalu ikhlas dan rido dalam membantu orang lain tanpa harus mengharapkan imbalan darinya.
Kita juga harus selalu ikhlas dan ridha atas segala kesulitan yang diberikan Allah kepada kita. Karena setelah ada kesulitan pasti ada kemudahan. Seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’anul Karim
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”(al-Insyirah:5-6)
Oleh karena itu kita harus percaya bahwa setiap kali Allah menurunkan bencana, maka selalu disertai keleluasaan.
Oleh karena itu, kita harus selalu ingat bahwa musibah bagi orang muslim merupakan penyuci dari dosa dan kesalahan-kesalahannya. Berawal dari hal itulah kita wajib bersyukur kepada Allah, dengan optimis bahwa dengan izin Allah ia akan baik-baik saja, tidak merasa kesal dan marah atas musibah yang menimpanya. Sehingga ia akan selalu berfikir positif terhadap Allah dan selalu mengambil jalan keluar dari masalahnya dengan kepala jernih. Dan ia pun akan bertawakal kepada Allah atas segala sesuatu yang telah ia lakukan. Sehingga dengan begitu, hidup kita akan lebih tenang dan tentram dengan lindungan dari Allah swt.
Pikiran-pikiran positif dapat dibangun dengan melakukan beberapa hal seperti di bawah ini.
1. Menghilangkan cemburu dan penyakit hati lainnya
Rasa cemburu merupakan salah satu penyebab timbulnya rasa cemas. Rasa ini merupakan suatu hasrat untuk dicintai seseorang dengan cara tertentu. Rasa cemburu ini dapat timbul akibat kurangnya kepercayaan diri. Cemburu merupakan problem kejiwaan urutan pertama diantara problem kejiwaan lainnya. Orang yang ditimpa rasa cemburu yang berlebihan akan menyulitkan dirinya untuk menilai mana yang baik dan mana yang buruk sehingga dapat menimbulkan perilaku yang bersifat merusak.
Orang yang menyiksa diri karena cemburu melihat tingkah laku orang yang dicintainya kepada orang lain hendaknya mengetahui bahwa pemikirannya salah. Kita hendaknya tidak memberikan penilaian kepada diri sendiri melalui orang lain. Nilailah diri kita berdasarkan kita sendiri, dari kepribadian dan perbuatan kita. Akan tetapi, bukan berarti kita tidak boleh cemburu. Karena sesungguhnya cemburu adalah kodrat manusia. Namun kita harus bisa mambedakan mana cemburu yang negatif dan yang positif.
Penyakit hati lainnya ialah iri. Ada syair yang berbunyi.
“Alangkah indah dan adilnya sifat iri itu bila sifat iri sudah mulai menyerang pemiliknya. Selanjutnya, pemiliknya itu akan dibunuhnya pula.”
Seorang ahli fiqih bernama Mansyur pernah mengatakan
“Katakan kepada orang yang selalu iri kepadaku, tahukah engkau kepada siapa engkau telah bertindak tidak sopan. Engkau telah bertindak tidak sopan kepada Allah atas tentuannya karena engkau tidak rela atas apa yang Allah berikan kepadaku,”
Oleh karena itu, jagalah diri kita dari sifat iri karena dalam iri akan tumbuh dan berkembang rasa benci antar sesama manusia. Dengan sifat iri ini akan timbul permusuhan, permasalahan, dan peperangan. Dan jangan pernah benci kepada seseorang yang Allah telah memberikan kepadanya sebagian karunia-Nya. Dengan begitu, perasaan dan jiwa kita akan tenang dan tentram.
2. Membebaskan diri dari rasa sedih, cemas dan takut gagal
Hidup kita merupakan hasil berpikir kita. Kita tidak akan terhindar dari rasa sedih dan cemas jika kita selalu memenuhi kepala kita dengan kesedihan dan kesusahan yang berat untuk dipikul. Kita tidak akan mampu terbebas dari rasa cemas dan sedih kecuali kita sendiri bersikeras untuk mengatasinya. Semua itu dapat terwujud dengan mengubah dan meluruskan gaya pikiran kita yang selalu mengiginkan semua berjalan sesuai dengan kehendak kita.
Padahal di dunia ini tidak ada yang sempurna. Satu ciri kehidupan di dunia ialah adanya perasaan kurang. Dengan sikap yang perfeksionisme kita akan selalu merasa cemas dan takut gagal. Padahal dengan cemas tidak akan membuat sesuatu menjadi lebih baik, malah menjadikan seseorang kurang dapat beradaptasi dengan masa kini.
Perasaan takut gagal pun kerap muncul dalam benak seseorang. Perasaan seperti ini bukanlah fitrah atau bawaan sejak lahir. Didikan sosiallah yang berperan besar memberikan pegaruh ini. Dr. Wyne W. Dyer dalam bukunya 10 Secret for Success and Internal Peace mengatakan bahwa rasa takut gagal sangat menjangkiti masyarakat karena rasa takut itu sudah terekam dalam pikiran sejak masa anak-anak dan terus melekat sepanjang hidup.
Perasaan takut gagal akan mencegah kita untuk mengarungi pengalaman yang sangat banyak, menarik dan berguna bagi kita. Orang-orang yang telah membebaskan dirinya dari perasaan takut gagal adalah orang-orang yang paling berhasil yang pernah kita lihat. Oleh karena itu kita tidak boleh putus asa jika mengalami kegagalan di masa lalu dan menghentikan kita untuk melangkah maju.
3. Jadilah sosok yang sukses dan Berbeda
Didikan keluarga yang salah akan berperan besar dalam mewariskan kepada anak-anak sifat yang suka ikut-ikutan dan tidak memiliki pendirian. Lebih lanjut, hal itu berperan besar pula dalam upaya menjadikan pribadi anak mirip sekali dengan ayah atau ibunya.
Pribadi orang yang suka ikut-ikutan adalah pribadi yang suka menempel dan lemah, padahal di satu pihak, Islam membutuhkan sosok muslim yang berkepribadian kuat dan independen serta sosok pribadi yang istimewa dan lain daripada yang lain. Kita harus merasa bahwa kita memiliki kepribadian yang dapat menjadi kebanggaan bagi kita. Kita harus memiliki jalan hidup sendiri. Akan tetapi kita boleh mirip dengan orang lain dalam hal kebaikan dan ketaatan. Namun jangan berupaya mirip dengan orang lain selain kita sendiri.
Perasaan bangga dengan diri pribadi, komitmen untuk tetap berpegangan dengan hal itu, serta sikap kita yang tidak seka meniru orang lain, akan membantu kita untuk memperoleh ketenangan jiwa dan berperan juga dalam rangka mengatasi kecemasan dan kesusahan. Hal ini pula yang akan memjadikan kita merasa bahagia dan sukses karena telah menjadi diri sendiri tanpa menjadi sama dengan orang lain.
4. Ikhlas, ridho, dan tawakal atas langkah yang diambil
Salah satu penyebab kecemasan yang dialami oleh kebanyakan orang adalah rasa jengkel pada diri meraka dengan tingkah laku dan perbuatan orang lain atau mereka merasa diabaikan oleh orang lain, sehingga ia merasa rendah diri.
Sungguh, itu adalah perbuatan yang salah. Kita hendaknya selalu ikhlas dan rido dalam membantu orang lain tanpa harus mengharapkan imbalan darinya.
Kita juga harus selalu ikhlas dan ridha atas segala kesulitan yang diberikan Allah kepada kita. Karena setelah ada kesulitan pasti ada kemudahan. Seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’anul Karim
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”(al-Insyirah:5-6)
Oleh karena itu kita harus percaya bahwa setiap kali Allah menurunkan bencana, maka selalu disertai keleluasaan.
Oleh karena itu, kita harus selalu ingat bahwa musibah bagi orang muslim merupakan penyuci dari dosa dan kesalahan-kesalahannya. Berawal dari hal itulah kita wajib bersyukur kepada Allah, dengan optimis bahwa dengan izin Allah ia akan baik-baik saja, tidak merasa kesal dan marah atas musibah yang menimpanya. Sehingga ia akan selalu berfikir positif terhadap Allah dan selalu mengambil jalan keluar dari masalahnya dengan kepala jernih. Dan ia pun akan bertawakal kepada Allah atas segala sesuatu yang telah ia lakukan. Sehingga dengan begitu, hidup kita akan lebih tenang dan tentram dengan lindungan dari Allah swt.


